Filed Under:  Nasional

LSM Boppkasni Kecam Kinerja Dinas Pertanian

6th May 2013   ·   0 Comments

Batu Bara | KabarPublik.com – Sejumlah petani di Desa Lubuk Cuek, Kecamatan Lima Puluh, Kabupaten Batu Bara SumateraUtara, hasil panen cabainya mengalami penurunan drastis serta puluhan hektar sawah menjadi terlantar. Hal demikain mengakibatkan munculnya pandangan negatif beberapa kalangan, salah satunya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Badan Operasional Pemantau Dan Pengawas Kekayaan Serta Aset Negara Indonesia (Boppkasni).

Sekretaris Boppkasni Kabupaten Batu Bara Erwinsyah merasa sangat prihatin atas situasi yang menghimpit para petani tersebut. Kemudian ia melemparkan kritik pedas terhadap sikap maupun kinerja Dinas Pertanian Kabupaten Batu Bara, pada Ahad (05/05) sekira pukul 15.30 WIB.

Berada langsung di areal pertanian warga,  Erwinsyah beromentar apa yang disaksikan. Kepada media ini, pria asli daerah Batu Bara itu mengatakan, sangat prihatin melihat pemandangan miris di depan mata. “Petani cabai mengalami gagal panen akibat kekeringan. Miris sekali aku,” ce[plos dia.

Lebih miris lagi begitu ia saksikan puluhan hektar areal persawahan yang sudah tidak ditanami padi lagi. Sawah-sawah itu mengesankan sebagai area terlantar dan tidak produktif.

Melihat kondisi seperti ini, Erwin (40) yang berperawakan sedikit gemuk itu pun kemudian memperkirakan bahwa cepat atau lambat, seluruh areal persawahan di wilayah tersebut akan terkonversi. “Atau para petani akan segera beralih ketanaman lain. Coba anda lihat sendiri, selain kontur tanahnya seperti ini, sistem pengairannya pun tidak berfungsi dengan baik,” sebutnya.

Ia lalu menyinggung, keberadaan areal sawah lebih tinggi dari tali air atau irigasi. “Coba tengok juga parit parit irigasi yang tidak permanen itu. Bukankah ini bukti kalau Dinas Pertanian sedikit pun tak punya perhatian?” katanya bernada tanya.

Ia pun mengaku heran kalau masih ada parit irigasi yang belum permanen bahkan tidak memiliki pintu air. “Ya jelaslah, kalau begitu keadaannya debit air yang diharapkan masuk oleh petani pasti tidak akan dapat terkontrol dengan baik. Apalagi sewaktu musim kemarau datang seperti sekarang ini. Cobalah tengok sendiri airnya cuma sejengkal. Yang paling parah, setelah kami telusuri ke petani, dinas petanian jarang berkunjung kemari,” katanya.

“Jangankan dinas pertanian memberi bantuan bibit, memberi penyuluhan pun bisa dibilang hampir tak pernah,”  tambah dia.

Menurut Erwin para penyuluh terkesan cuma cari uang masuk dengan cara menyuntik lembu atau sapi yang hendak berkembang biak saja. “Sedangkan dinas pertanian kesannya pandai tebar pesona dengan cara menggelar acara seremonial panen raya. Setahu saya kalau suatu daerah sudah bisa menggelar panen raya berarti sudah swasembada pangan, atau dengan kata lain daerah tersebut sudahlah bisa memenuhi kebutuhan akan pangannya sendiri,” ceplos Erwin

Sementara itu Erwin pun mengaku LSM Boppkasni melakukan survei pasar. Ia bilang, rata-rata jangankan beras sedangkan cabai pun masih dipasok dari luar daerah. “Nah, jadi tak betullah itu panen raya cabai yang pernah digelar Dinas Pertanian Batu Bara. Buktinya harga cabai terus saja naik di pasar pasar di wilayah Batu Bara,” pungkas Erwin. | bima pasaribu.

Readers Comments (0)


Comments are closed.

Click here to add Widgets