Filed Under:  Nasional

Pegawai Sudin Dikmen Jaktim ‘Alergi’ Wartawan

19th June 2013   ·   0 Comments

Jakarta (KabarPublik) – Diberitakan sebelumnya, Sebagian guru swasta Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Jakarta Timur yang telah bersertifikasi, merasa resah. Pasalnya, haknya sebagai pendidik yang telah memiliki kompetensi sejak tahun 2012, belum juga dibayarkan. Padahal sebagian lagi dari para guru rekan mereka sudah dibayarkan bulan Mei yang lalu. Hingga Juni 2013 ini, sebagian guru bersertifikasi belum mendapatkan tunjangan sertifikasi selama lima bulan.

Saat hal tersebut dikonfirmasi wartawan Jaya Pos, Rico, ke pihak Suku Dinas Pendidikan Menengah (Sudin Dikmen) Jakarta Timur, Rabu (19/6), wartawan itu malah mendapat perlakuan tidak baik dari pegawai Sudin Dikmen. Pasalnya, saat Rico mengambil gambar pelayanan yang ada di ruangan di kantor tersebut, beberapa pegawai wanita nampak tidak senang dan menegur Rico dan seorang pegawai wanita berlogat sumatera seakan menantang lalu balik memotret wartawan tersebut, dengan kamera ponselnya.

“Padahal saya mengambil gambar di area publik. Lagi pula gambar yang diambil adalah ruang pelayanan. Tidak ada yang istimewa,” ujar Rico kepada KabarPublik, Rabu (19/6).

Hal tersebut tentu disesalkan Rico. Dijelaskannya bila dirinya sedang bertugas dan berlaku sopan serta menunjukan identitas jelas sebagai insan pers. Namun, nampaknya pegawai dilingkungan Sudin Dikmen tersebut seakan ‘alergi’ dengan kehadiran wartawan.

Rico menambahkan bila dirinya juga terkesan sulit mendapatkan konfirmasi Kasudin Dikmen Jaktim, yang saat ini berstatus Plt. Dan pada saat didatangi yang bersangkutan tidak berada di tempat. “Informasi dari Staf TU, Dwi, Kasudin tidak ada. Olehnya saya di arahkan ke Kepala Seksi Tendik. Tapi tidak ada juga,” tutur Rico.

Menanggapi hal itu, Deni Sulaeman, Sekretaris lembaga swadaya masyarakat forum studi layanan publik (LSM Forpublik) menyesalkan sikap PNS tersebut. Menurutnya, tugas wartawan sudah jelas untuk mendapatkan dan menyajikan informasi yang akurat dan berimbang. Jadi, kata Deni, apabila sudah ditunjukan identitas yang jelas dan berlaku sopan, harus dilayani pula dengan baik. Deni menganggap sikap PNS tersebut sebagai sikap yang resisten dan arogan, tidak mengedepankan pelayanan yang baik.

“Dengan wartawan saja begitu, apalagi melayani guru-guru, yang swasta pula. Apa bisa dijamin baik?” pungkas Deni, di kantor redaksi KabarPublik, Rabu (19/6).  Dia menambahkan, jika tidak semua PNS bersikap tidak ramah seperti itu.

“Masih banyak kog yang baik. Tapi hal tersebut harus mendapat perhatian dan pembinaan dari pihak Dinas Pendididikan DKI Jakarta. Supaya makin baik,” imbuh Deni. | dhan

Readers Comments (0)


Comments are closed.

Click here to add Widgets